Bagaimanakah Ajeg Bali Itu??
Belakangan ini kata-kata ajeg Bali selalu melintas di telinga kita. Sebuah perdebatan mengenai pencarian jati diri orang bali. Jika melihat piagam samuan tiga ada hal yang aneh dalam piagam tersebut. Yang mana merupakan sebuah pikiran mundur dari pemuka agama Hindu di Bali.
Menurut hemat saya, Umat Hindu di bali cinderung sempit dalam berfikir, seolah-olah menunjukkan bahwa org Hindu hanya di peluk oleh org Bali saja. Agama ''Hindu Bali'' memiliki sejumlah ajaran yang khas, sebagaimana disebutkan dalam Piagam Samuan Tiga. Misalnya:
(1) Dasar pelaksanaan agama yang mengacu pada Weda Sruti, Weda Smerti Darsana, Tantra dan kearifan lokal yang disarikan dalam lontar-lontar;
(2) Landasan keimanan (Sradha) kepada Tuhan adalah Siwa Tatwa dengan Paham Monoteisme (Eka Twa Aneka Twa Swa Laksana Batara);
(3) Menyembah Tuhan (Sang Hyang Widhi) lebih khusus disebut Bhatara Siwa, Dewa Dewi, dan Hyang leluhur;
(4) Mempunyai pemujaan yang disebut Sanggah/Pemerajan dan Pura;
(5) Melaksanakan upacara Panca Yadnya menggunakan sarana banten dengan pekemnya yang khas dipimpin oleh Wiku Huwus Kertha Diksita dan Pemangku dengan atribut serta sesana yang khas pula; dan
(6) Agama Hindu yang menjadikan Sosio-kultural Bali sebagai media pelaksananya.
Bali memang terkenal dengan pusatnya Hindu di indonesia, namun sudah bisakah Bali menjadi panutan bagi pemeluk Hindu di Indonesia ataupun di dunia? Menurut saya belum. Mengapa? karena selama ini Hindu di Bali hanya sibuk dalam ber-Adat, tanpa jelas mengenai pengaplikasian weda. Bahan referensi utama yang di aplikasikan merupakan Lontar yang tak jelas sumber referensinya, walaupun bagi sebagian masyarakat menganggap itu berasal dari weda, namun banyak bertolak belakang.
Jika kita melihat Hindu diluar Bali, justru lebih bagus peng-aplikasian Hindu-nya ketimbang org yg memang hanya di Bali saja. Semisal, pura diluar Bali tidak pernah digunakan untk sabung ayam (tajen), judi (cekian), domino, bola adil, jualan arak dll. Pura maupun pemeluk Hindu diluar Bali lebih sederhana dalam melaksanakan upacara keagamaan, mengutamakan pencerahan kepada umat, yang penting berpakaian rapih, sopan dan hati yang tulus.(hindunya lebih terasa coy..).
Sangat berbeda dengan di Bali, jika odalan tiba orang akan berlomba-lomba membuat banten yg setinggi mungkin, menggunakan buah-buahan impor, berpakaian serba kinclong dan harus seragam, menggunakan emas-emasan yg berkilau, songket yg luar biasa, bahkan terkadang miras pun dijual dan di konsumsi sebelum persembahyangan, dan selesai upacara sampah-pun bertebaran dimana-mana. Bukan kah semua itu bertentangan dengan ajaran Weda? Bukankah weda selalu mengajarkan kesederhanaan? Lalu dimana pikiran para intelektual Bali? Lalu dimana pencerahhan Agamanya? Inikah yang akan di ajegkan? Sungguh aneh menurut saya.
Di sisi lain, Jika kita lihat umat lain di Bali, mereka berbondong bondong mendirikan panti asuhan, melakukan kegiatan sosial, merangkul umatnya, dan tempat ibadah mereka makin hari makin bertambah, tempat ibadah sangat bersih dan terawat, serta mengutamakan mencerdaskan umatnya masing-masing. Sementara Umat Hindu hanya sibuk dengan upakara yang memakan biaya juta-jutaan, bangga dg sanjungan akan kebesaran sebuah ritual dari pendatang (PK5 yg berjualan pada saat ada upacara), dan banyaknya upakara yg berententan di setiap tahun yang mempunyai jedah waktu yg sedikit di setiap bulannya dan tentu memakan biaya yg tidak sedikit. Sementara anak-anak mereka hanya sekolah sebatas SMA saja, dan terkadang tanahpun dijual kepada org luar bali untuk membiayai ritual. Sungguh meresahkan. apakah hal ini yang akan di ajegkan?
Hal lain diluar Bali, jika saya amati dan saya punya beberapa teman, orang hindu cinderung gampang pindah ke Agama lain, dalam hal pernikahan terutama di daerah-daerah pedesaan seperti di Transmigrasi. Apa lagi orang yang tiba-tiba merantau dari Bali ke daerah lain (siap-siap saja di hasut dan dihujani pertanyaan dari umat lain). Ini membuktikan lemahnya pondasi ajaran Hindu yang diterapkan kepada generasi muda Hindu sewaktu kecil sebagai penerus ajaran HIndu. Namun jika di perkotaan (diluar Bali) masih lumayan bagus pondasi Hindu yg ditanamkan.
Kesimpulan saya,
Jika memang Ajeg Bali yang diajegkan adalah dengan tidak menjual tanah kepada org luar Bali, Melestarikan Budaya Bali yg sdh mashyur di mata dunia, mencegah umat agar tidak berpaling ke agama lain dengan mencerdaskan umat dan memberikan pendidikan Hindu yg Universal (bukan kiblat di bali saja), mengajarkan kesederhanaan dalam beragama, lebih mengutamakan kegiatan sosial dan merangkul seluruh umat Hindu tanpa membedakan adat maupun warna, srta menghilangkan "kasta ala orang bali itu", adat harus dilakukan revisi ke yang lebih sederhana, sehingga org Bali akan lebih dipekerjakan di Bali(karena selama ini org Bali sering liibur/izin dr bos di tempat kerjanya dengan alasan ada upacara adat) itu saya sangat setuju.
Namun jika Ajeg dalam hal ini dikaitkan dengan Penegakan "Hindu Bali" yg sempit serta mempersulit Umat dengan mengutamakan upakara yang besar & menghabiskan banyak uang & menambah Hutang sehingga org Bali merasa berat bergagama Hindu / ber-adat Bali, lalu berpindah ke Agama yg dianggap lebih sederhana/simpel itu saya sangat TIDAK setuju.
Kaum muda Hindu harus berfikiran lebih modern demi menjaga Bali yang kita cintai agar tetap mendaji Bali yg penghuninya adalah orang Bali yg menjaga budaya dan Agamanya. Berani merubah semua kesalahan yang selama ini sudah sangat jauh menyimpang dari ajaran Weda.
Serta seharusnya pendalaman kitab suci serta pengaplikasiannya dalam kehindupan merupakan Hal yang lebih baik untuk Beragama serta mencapai Brahman (Tuhan YME). Masyarakat Hindu di Bali (terutama di pedesaan) terlalu polos, menganggap dengan kepura saja bahwa itu adalah Sudah beragama Hindu.
Tulisan ini saya buat bukan berarti saya ingin mencela, namun hanya karena saya merasa resah sebagai generasi muda Hindu jika suatu saat Hindu akan Punah ditelan jaman. Ini hanyalah sekedar usaha kecil guna membuka fikiran Umat yg selama ini sempit sehingga dapat membawa pencerahan. Mari bersama sama mencerdaskan HIndu. Terima kasih.
By: Divka HD
Mohon mengisi guest book/buku tamu..